Babinsa Kodim 1624-06/Wulanggitang terus Edukasi, Sosialisasi 3 T dan 3 M, Putus Mata Rantai Covid-19

Flotim, MEXIN TV ONLINE - Penerapan praktik 3T (Tracing, Testing, Treatment) sama pentingnya dengan penerapan perilaku 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Kedua hal tersebut adalah upaya untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Hanya saja, penerapan praktik 3T masih perlu ditingkatkan pemahamannya di masyarakat, mengingat masyarakat lebih mengenal 3M yang kampanyenya dilakukan terlebih dahulu dan gencar.

Terkait Hal Tersebut Dandim 1624/Flotim Letkol Czi  Imanda Setyawan, S. T., M. I. P., mengatakan, 3M banyak membicarakan tentang peran sebagai individu. Sementara 3T berbicara tentang bagaimana memberikan motifikasi atau pemberitahuan pada orang di sekitar untuk waspada. 

"Jadi memang ada satu proses yang tidak hanya melibatkan individu tapi juga orang yang lebih banyak. Dalam Sosialisasi dan edukasi optimisme masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment) yang dilaksanakan Satgas Covid-19," ungkapnya, Selasa.(16/02/2021).

Seperti yang dilakukan Babinsa Koramil 1624-06/Wulanggitang  Koptu Yohanes Bada Puka,  yang tidak kenal lelah turun bersinergi bersama steakholder menyusuri lingkungan yang ada di Desa binaannya dengan penuh kesabaran memberikan edukasi, sosialisasi  kepada warga masyarakat terkait  3T terdiri dari tiga kata yakni pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). 

Sementara itu, Dandim 1624/Flotim juga mengemukakan masih ada  masyarakat yang tidak paham mengenai 3T. Sebaliknya ada juga  masyarakat  mengaku paham terhadap 3M. Artinya, masih ada masyarakat yang menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah padahal kenyataannya justru kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

“Kampanye 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan terus berjalan sampai sekarang. Jika 3M tidak berjalan, maka 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah berjalan, saatnya kita mulai membicarakan 3T," jelasnya.

Selanjutnya Dandim yang dikenal dekat dengan masyarakat ini, mengemukakan salah satu faktor yang menghambat kampanye 3T adalah ketakutan atas stigma masyarakat.  Untuk itu pemerintah perlu menghimbau masyarakat agar tidak mengucilkan pasien positif COVID-19, namun memberikan dukungan dan keprihatinan agar stigma negatif di mata publik bisa menghilang.

Menurut Koptu Yohanes ada beberapa strategi yang dilaksanakan pemerintah untuk memperkuat upaya perubahan perilaku di masyarakat yakni, kampanye 3M, sedangkan 3T dengan melakukan deteksi awal penyebaran COVID-19 dengan testing dan tracing yang tepat sasaran, sementara untuk treatment pemerintah memperkuat manajemen perawatan pada pasien COVID-19.

Meskipun vaksin COVID-19  sudah ditemukan dan sudah  didistribusikan, perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan serta kebiasan terhadap 3M dan 3T harus tetap dijalankan sampai pemerintah benar-benar memberikan informasi bahwa COVID-19 sudah tidak ada.

"Jadi dengan 3M dan 3T sama pentingnya dan satu kesatuan, kita berupaya memutus mata rantai penularan COVID-19 dengan kita melindungi diri dan melindungi sesama," (MEXIN)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama

Featured Video